WEBSITE PDI PERJUANGAN

The Pioneer of PDI Perjuangan News & The Voice of PDI Perjuangan. Website PDI Perjuangan, Blog PDI Perjuangan, Portal PDI Perjuangan, Situs PDI Perjuangan, Group PDI Perjuangan, Milis PDI Perjuangan, Mailing List PDI Perjuangan, Wiki PDI Perjuangan, Underbow PDI Perjuangan, Ormas PDI Perjuangan, Organisasi Sayap PDI Perjuangan.

My Photo
Name:
Location: NEGARA KESATUAN, REPUBLIK INDONESIA, Indonesia

admint.pdiperjuangan@googlemail.com pdi-perjuangan@zoomshare.com

Kirimkan Berita dan Foto Dari DPC/DPD Anda ke: admint.pdiperjuangan@googlemail.com atau pdi-perjuangan@zoomshare.com. Berita yang menarik akan dimuat di website ini.

Thursday, June 21, 2007

Supported Links !

  • Kumpulan Website PDI Perjuangan
  • JOIN MAILING LIST PDI PERJUANGAN 28
  • Golkar-PDIP Jajaki Koalisi

    PDI PERJUANGAN NEWS MEGAWATI FOR PRESIDENT 2009

    Golkar-PDIP Jajaki Koalisi
    Jawa Pos, Kamis, 21 Juni 2007,

    Demokrat Anggap Manuver Beringin Meningkatkan Tawaran ke SBY
    MEDAN - Aliansi ’Merah-Kuning’ muncul di Medan, Sumatera Utara. Dua partai besar, Partai Golkar dan PDIP, mendeklarasikan koalisi baru. Ketua Dewan Penasihat DPP Golkar Surya Paloh dan Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP Taufik Kiemas bergandeng tangan dan saling memuji bahwa mereka satu visi dalam menghadapi kepentingan politik bersama.

    Kendati tidak dihadiri Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, koalisi itu tak bisa disepelekan. Kiemas, suami Mega, dikenal sebagai tokoh berpengaruh di partai berlambang kepala sapi moncong putih itu. Begitu juga Surya dikenal sebagai tokoh yang sukses mengantarkan Kalla sebagai ketua umum Golkar.

    Hal lain yang memberi warna bahwa koalisi itu serius adalah kehadiran tokoh kunci di eksekutif kedua partai. Dari Golkar hadir antara lain Sekjen Sumarsono, Syamsul Mua’rif (ketua), Burhanuddin Napitupulu (ketua) dan Priyo Budi Santoso (ketua). Dari PDIP terlihat Sekjen Pramono Anung, Tjahjo Kumolo (ketua DPP dan ketua FPDIP), tokoh senior Sabam Sirait, dan ketua DPD PDIP Sumut yang juga Gubernur Sumut Rudolf Pardede.

    Bila koalisi semakin dimatangkan, acara yang digelar di Hotel Tiara itu juga mengisyaratkan kemungkinan adanya perubahan peta politik. Golkar yang memiliki 127 kursi di DPR saat ini menjadi bumper kebijakan Presiden SBY di parlemen. Sementara PDIP yang memiliki 109 kursi, memproklamasikan diri sebagai oposisi. Bila bergabung, keduanya akan menjadi kekuatan menentukan di DPR. Sebab, gabungan keduanya menghasilkan 236 kursi. Hampir separo dari 550 anggota DPR.

    Deklarasi koalisi itu dikemas dalam acara silaturahmi. Ribuan kader kedua partai yang datang dari pelosok Sumut membanjiri lokasi. Panggung yang disiapkan di luar penuh. Dari pantauan Sumut Pos (Grup Jawa Pos), mereka datang dengan atribut partai masing-masing. Namun, warna kuning lebih banyak.

    "Awalnya kita harus sepakat berjalan dalam koridor UUD 1945 dan Pancasila yang bernaung di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Kiemas saat memberikan sambutan.

    Selama ini, kata Kiemas, kedua partai saling berbeda pandangan, padahal satu tujuan, yakni menyejahterakan masyarakat. Untuk itulah, dalam acara silaturahmi ini kedua kekuatan partai bisa bersatu dalam mempertahankan NKRI.

    Pendapat itu didukung Surya Paloh. Dalam acara yang difasilitasi DPD Partai Golkar Sumut itu, Surya mengatakan acara tersebut merupakan titik awal untuk menyatukan dua partai yang berasaskan nasionalis. Ini mengingat Indonesia menganut multipartai. "Acara ini merupakan ide kami berdua dengan Pak Taufik Kiemas. Kami ingin kedua partai politik bersatu dan sejalan dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat."

    Surya yang saat Pilpres 2004 begitu dekat dengan SBY, sempat mengkritik pemerintahan Indonesia yang dimulai sejak bergulirnya era reformasi. Disebutkan, selama ini pemerintahan Indonesia belum menunjukkan perubahan ke arah signifikan.

    "Acara ini bukan tujuan jangka pendek, tetapi jangka panjang beberapa tahun yang akan datang," terang Surya.

    Disinggung soal pemilihan gubernur Sumatera Utara 2008, Surya menyebutkan, tidak tertutup kemungkinan kedua partai besar berkoalisi dalam mengusung pasangan calon. Namun, dalam acara silaturahmi ini, rencana itu belum ditetapkan. "Yang penting sekarang kami menyatukan persepsi partai dulu, belum menentukan program ataupun langkah ke depan," terang Surya yang mengaku merintis pertemuan itu dua tahun.

    Di tempat terpisah, saat berada di ruang VIP Bandara Polonia, dia menjelaskan, yang penting adalah satu persepsi. "Pemilihan presiden (Pilpres) 2009 merupakan suatu tahap yang akan kita lewati bersama. Tapi, sekali lagi, pertemuan itu bukan tujuan ke arah pilpres maupun pilgubsu," kata Surya yang datang ke Medan dengan pesawat pribadi.


    Reaksi Partai Demokrat

    Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Achmad Mubarok yakin pembentukan aliansi tersebut tidak berpengaruh terhadap partainya. Namun, dia tidak membantah jika forum itu bertujuan memberikan shock therapy kepada Presiden SBY. "Kami tidak akan terpengaruh. Namun, pengaruhnya bagi Golkar adalah akan meningkatkan nilai tawar ke SBY," analisisnya.

    Tidak terpengaruhnya citra SBY, lanjut Mubarok, terlihat dalam berbagai survei. Menurut dia, citra SBY stabil pada kisaran 30 persen. Di atas tokoh-tokoh lain yang menjadi saingannya. "Karena itu, kami tidak khawatir sama sekali. Ini hanya manuver jangka pendek, musik politik, yang bertahan 2-3 bulan saja," katanya.

    Mubarok juga melihat bahwa sosok Jusuf Kalla di tubuh Partai Golkar tidak menjadi sentral. Kelompok "Akabaris" (sebutan untuk pendukung Akbar Tandjung) masih kuat dan siap mengikuti tokoh sentral. "Akbar sekarang kan sudah memimpin Barindo. Padahal, Barindo itu milik Partai Demokrat," jelasnya.

    Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengatakan, tidak ada hal yang mengkhawatirkan pada pertemuan petinggi PDIP dan Partai Golkar itu. Partai Demokrat yang selama ini dikenal berkawan dekat dengan Partai Golkar selaku partai pendukung pemerintah tidak merasa ditinggalkan. "Ítu silaturahmi yang lumrah. Partai Demokrat tidak merasa terancam," katanya kemarin. Menurut Anas, masa depan Partai Demokrat lebih ditentukan oleh rakyat pemilih, bukan oleh silaturahmi antara partai A dan B.

    ’’Jadi, peristiwa ini sama sekali tidak mengagetkan dan tidak membuat Partai Demokrat terkaget-kaget. Tak ada bahayanya,” katanya. Alumnus Unair itu mengaku optimistis Golkar tidak akan meninggalkan Partai Demokrat. Sebab, Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla masih berada dalam internal kabinet selaku wakil presiden. ’’Kami yakin Golkar tidak akan mengganggu pemerintah,” ujarnya. (cak/aku/jpnn)

    Labels: , ,

    0 Comments:

    Post a Comment

    Links to this post:

    Create a Link

    << Home

    Subscribe to pdi-perjuangan_28
    Powered by groups.yahoo.com

    | View Show | Create Your Own

    toolbar powered by Conduit