WEBSITE PDI PERJUANGAN

The Pioneer of PDI Perjuangan News & The Voice of PDI Perjuangan. Website PDI Perjuangan, Blog PDI Perjuangan, Portal PDI Perjuangan, Situs PDI Perjuangan, Group PDI Perjuangan, Milis PDI Perjuangan, Mailing List PDI Perjuangan, Wiki PDI Perjuangan, Underbow PDI Perjuangan, Ormas PDI Perjuangan, Organisasi Sayap PDI Perjuangan.

My Photo
Name:
Location: NEGARA KESATUAN, REPUBLIK INDONESIA, Indonesia

admint.pdiperjuangan@googlemail.com pdi-perjuangan@zoomshare.com

Kirimkan Berita dan Foto Dari DPC/DPD Anda ke: admint.pdiperjuangan@googlemail.com atau pdi-perjuangan@zoomshare.com. Berita yang menarik akan dimuat di website ini.

Wednesday, November 29, 2006

Supported Links !

  • Kumpulan Website PDI Perjuangan
  • JOIN MAILING LIST PDI PERJUANGAN 28
  • Sabam Sirait, Politikus Senayan yang Hari Ini Menapak Usia 70 Tahun

    PDI PERJUANGAN NEWS MEGAWATI FOR PRESIDENT 2009

    Jawa Pos. Rabu, 29 Nov 2006

    Sabam Sirait, Politikus Senayan yang Hari Ini Menapak Usia 70 Tahun
    Terjun ke Dunia Politik setelah Gagal Jadi Polisi

    Usia yang terus bertambah tidak mengendurkan semangat perjuangan Sabam Sirait, politikus gaek asal Medan. Pada usia yang merambat 70 tahun, politikus senior itu tak kehilangan sikap kritis. A. Khoirul Umam -Jakarta Hari ini Sabam -demikian Sabam Sirait akrab disapa- akan merayakan ulang tahun yang ke-70.

    Dia mengundang sejumlah teman seperjuangannya di Ruang Auditorium Gedung Manggala Wanabakti, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Pada hari spesial itu, politikus nasionalis tersebut kembali meluncurkan buku biografi yang berjudul Sabam Sirait Meniti Demokrasi Indonesia. Buku yang ditulis Imron Hasibuan dan diterbitkan View Communication itu merupakan biografinya yang kedua. "Tahun 1997 juga ada terbitan biografi politik saya yang bernuansa semangat gerakan reformasi," kata Sabam kepada Jawa Pos kemarin.Dia merupakan salah seorang politikus ulung yang dimiliki bangsa ini. Alur perjalanan hidupnya untuk meniti karir didunia politik melalui liku-liku.

    Dulu, Sabam muda sangat diharapkan kedua orang tuanya, Hendrik Sirait dan Yulia Sibuea, untuk menjadi guru. Guru dinilai profesi yang amat mulia untuk penguatan civic education secara langsung terhadap komunitas grass roots.

    Karena Sabam tidak berminat dengan profesi guru, orang tuanya ganti mengimpikan putranya itu menjadi polisi. Harapan orang tuanya sempat ditindaklanjuti Sabam. Berkas-berkas pendaftaran pun sempat diajukan. Namun, apa boleh dikata, dia dipaksa gigit jari saat mengetahui bahwa waktu pendaftaran menjadi aparat kepolisian sudah tutup.

    Akhirnya, harapan kedua orang tuanya itu pun harus pupus saat Sabam lebih tertarik untuk memikirkan persoalan-persoalan bangsa yang bernuansa politis. Potensi intelektual yang mumpuni dan dipadu dengan sikap kritis menyadarkan Hendrik dan Yulia bahwa putranya yang lahir di Tajung Balai, Sumatera Utara, 13 Oktober 1936, itu akan menjadi tokoh besar bangsa ini kelak. Pada April 1956, Sabam memutuskan melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI), yang kebetulan masih membuka lowongan studi.

    Saat itu, dia terlibat aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Pria humoris itu juga berpartisipasi aktif dalam Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) dan Parkindo. Dia menjadi salah seorang aktivis ’66 terkemuka. Pengalaman itu mengantarkan dia dalam meniti karir politik. Dia sudah bergabung dengan parlemen pada awal Orde Baru, saat terjadi perombakan DPR. Dalam Pemilu 1971, Sabam terpaksa meninggalkan Senayan. Namun, dia aktif di Parkindo dan ikut menjadi motor saat partainya fusi bersama PNI, Partai Katolik, dan Murba menjadi PDI. Pemilu 1977 mengantar Sabam ke DPR lewat pintu PDI.

    Sejak itu, nama Sabam berkibar di parlemen. Dia disebut sebagai salah seorang politikus vokal di antara segelintir politisi yang kritis terhadap rezim Orde Baru. Sabam selalu menjadi bintang dalam isu politik nasional. Selain di DPR, dia pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), yakni pada 1983-1992. Pengalamannya yang bertumpuk itu telah membawa dia menduduki posisi penting dalam PDIP, partai baru reinkarnasi dari kekuatan pro-Megawati Soekarnoputri sebelum Pemilu 1999.

    Ditanya tentang perjalanan hidup dan karir poilitiknya itu, Sabam mengatakan bahwa dirinya harus melalui proses kontemplasi atau perenungan mendalam dan kerja keras. "Tapi, mungkin semua ini adalah takdir," ujarnya. Sabam ingin berbagi pengalaman dan menyuarakan pesan-pesan berharga kepada masyarakat Indonesia secara luas, khususnya para pemimpin bangsa itu. Di dalam biografi terbarunya yang hari ini di-launching-kan itu, Sabam ingin menyampaikan pesan kepada publik supaya tidak putus asa dalam menata dan menjaga bangunan demokrasi bangsa ini. "Buku ini berisi pengalaman sepak terjang politik saya dalam berdemokrasi," tuturnya.

    Untuk menegakkan sendi-sendi bangunan demokrasi bangsa ini, ujar dia, perlu menjunjung tinggi aspek kedisiplinan, kerja keras, dan senantiasa menghormati setiap perbedaan yang ada. Misalnya, dahulu pemerintahan sentralistik telah ditumbangkan dan diperbaiki dengan sistem otonomi. Namun, sistem otonomi itu hendaknya tetap menjaga persatuan dan keutuhan dari segenap elemen bangsa ini. Dia berharap, di acara hari ini sejumlah sahabatnya akan hadir. Rencananya, Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri sebagai keynote speaker, lalu Presiden Ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Ketua Dewan Penasihat DPP DPIP Taufiq Kiemas, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan pengamat politik UI Arbi Sanit. (aku)

    Labels: ,

    0 Comments:

    Post a Comment

    Links to this post:

    Create a Link

    << Home

    Subscribe to pdi-perjuangan_28
    Powered by groups.yahoo.com

    | View Show | Create Your Own

    toolbar powered by Conduit